Sejarah

Sejarah Lahirnya  Universitas Sawerigading

Perguruan Sawerigading yang melahirkan Universitas Sawerigading, sudah beroperasi sejak 1943. Perguruan ini dirintis oleh Haji Syahadat Daeng Situju. Nama perguruan dan kampus diambil dari salah seorang tokoh Bugis bernama Sawerigading yang sangat hebat dan menguasai beberapa wilayah menyebar di beberapa tempat di masa lalu.

Haji Syahadat,  lahir  di Bantaeng 1888.  Sekolah di  Volks School, Sampai kelas tiga.  Meneruskan di Veroolg School (Sekolah Rakyat Sambungan). Dia diterima sekolah raja di Makassar dan   memilih jurusan keguruan.  Setelah tamat  ditempatkan sebagai guru sekolah rakyat di Palleko Takalar. Di antara bekas muridnya termasuk Karaeng Polongbangkeng seorang Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia, yaitu Pajonga  Dg Ngalle. Muridnya di sekolah rakyat di Jongaya, termasuk Andi  Pangerang Pettarani mantan Gubernur Sulawesi dan Andi Ijo Karaeng Lalolang bekas raja Sombaya di Gowa. 

Periode 1920 – 1930 Syahadat berjuang dalam bidang pers, menerbitkan, surat kabat ‘Anak Kunci’,  menulis dalam  sura  kabar  di Pemberitaan Makassar, Berita Baru  dan penerbitan lainnya. Antara tahun 1925 dan 1930 Syahadat  juga turut mengelola ekonomi dan turut mendirikan PT (NV) “Wajo”.

Sewaktu perguruan Taman Siswa di Makassar berdiri sesudah 1930, Syahadat  turut membantu, sehingga Perguruan Sawerigading mulai dikelola 5 April 1943, sebenarnya menuruti pola pendidikan nasional Taman Siswa.  Syahadat Dg.Situju memimpin Perguruan dan Universitas Sawerigading  sampai akhir hayatnya.

Sepeninggal  Haji Syahadat  pada tgl 2 September 1950,  pimpinan  Universitas Sawerigading  diambil alih  puteranya ke-3, Nuruddin Syahadat. Dibawah pimpinan Nuruddin Syahadat Perguruan dan Universitas Sawerigading  berkembang pesat sampai di Pulau Jawa dan Sumatera Tanjung Pinang

Kepemimpinan Nuruddin Syahadat

Kepemimpinan Prof.(Hc).H. Nuruddin Syahadat, kampus berhasil membuka cabang perguruan di Pulau Jawa,  Bali, dan Sumatera. Kampus yang dibina Universitas Sawerigading, kemudian membuka cabang dan melebar kemana-mana. Sejarah kemudian mencatat, UNHAS, Universitas Brawijaya, Universitas Padjajajaran, Universitas Merdeka Malang, Universitas Jayabadra Jokyakarta, adalah kampus yang awalnya hadir merupakan embrio dari UNSA di masa lalu.

Tahun kuliah 1952/1953 telah didirikan cabang Universitas Sawerigading ( UNSA) di Surabaya dengan Fakultas Hukum, Ekonomi, Sastra Inggris dan Tehnik, sesudah cabang Surabaya berdiri cabang UNSA Jakarta, UNSA Semarang, UNSA Jogjakarta, UNSA Malang, UNSA Bandung, UNSA Madiun, UNSA Surakarta, UNSA Bogor, UNSA Cianjur, dan UNSA Jember. Menjelang tahun 1959 Universitas Sawerigading telah mempunyai 12 cabang di P.Jawa. Tidak mengherankan jika suatu usaha yang sudah berkembang  pesat  akan mengalami kegoncangan –  kegoncangan maka demikian pula  Universitas Sawerigading di Pulau Jawa  telah mengalami hal tersebut.

Pasang surut perjalanan perguruan juga sudah terlewati, masa perintisan dalam kurun waktu 1940-1950-an. Masa kejayaan di tahun 1950-1970-an, kurun waktu itu, kampus betul-betul memiliki cabang di beberapa kota di Jawa dengan mahasiswa mencapai ribuan orang.

Waktu berjalan, kebijakan pemerintah juga bergeser, cabang-cabang kampus yang ada di Jawa kemudian memisahkan diri dan berdiri sendiri selaku kampus mandiri dengan nama kampus yang baru.  Kampus induk di Makassar, secara perlahan juga mengalami masa surut dan nyaris gulung tikar.

Pada fase kemunduran ini, mahasiswa nyaris sudah tidak ada lagi, proses pembelajaran juga tidak berjalan  secara kontinyu. Era kevakuman itu tidak berlangsung lama, memasuki tahun 1980-an, generasi baru kampus  mulai merintis dan menyesuaikan diri dengan era baru kebijakan dalam dunia pendidikan tinggi.

Pelan tetapi pasti, masa kebangkitan kini sedang mulai meniti jalan menuju ke era masa kejayaan. Penataan infra dan sufra stuktur kampus mulai dilakukan, termasuk menata sumber daya dosen yang menjadi aset utama dalam institusi pendidikan.

Kedatangan sumber daya dosen dari kalangan generasi baru, menjadi pertanda akan mulai bangkit dan tentu akan mengulang sejarah masa lalu. Tanda-tanda zaman sudah mulai terbaca, program studi yang dibina dengan dukungan sumber daya dosen berkualifikasi pendidikan S2 dan S3, menjadikan kampus memiliki nilai tawar yang kuat memasuki era persaingan dalam dunia pendidikan tinggi.

Prof Nuruddin, telah membuatkan kita semua para civitas akademika wadah dan media, untuk berperan dalam pembangunan dengan mengambil andil mencerdaskan anak bangsa. Kampus yang telah menjalani usia 70 tahun, idealnya akan semakin dewasa dan matang dalam mengemban peran dan fungsinya di masyarakat.

Jatuh bangun kampus ini dalam pusaran zaman yang berubah, menjadikan Universitas Sawerigading, diperhadapkan pada kondisi, memulai lagi untuk hadir bersama kampus lain mencerdaskan anak-anak bangsa.  (*)